Monday, January 26, 2015

Pengertian Desain Penelitian

DESAIN PENELITIAN

A.      Pendahuluan
1.       Pengertian Pendekatan dan Metode Penelitian
Meneliti semua penduduk yang ada disuatu Negara berarti kita melaksanakan sensus. Kemudian meneliti sejumlah penduduk di Negara itu berarti kita melakukan survai. Sensus dan survai adalah dua contoh ‘pendekatan penelitian’.
Kajian kelompok kecil adalah kajian mengenai sejumlah kecil orang, yang tidak memungkinkan kita memperlakukannya sebagai wakil dari semua penduduk, karena hanya menyangkut sebagian kecil orang.
Cara-cara yang dipilih untuk mengumpulkan data adalah :
a.       Wawancara
b.      Observasi
c.       Angket
d.      Tes
e.      Alat perekam elektronik dan magnetic

2.       Kriteria dalam Memilih Pendekatan
Untuk memutuskan pendekatan mana yang akan dipilih perlu dipahami terlebih dahulu tentang jawaban atas pertanyaan berikut ini
·         Apakah informasi yang kita perlukan sudah tersedia ?
·         Mengapa kita memerlukan informasi ?
·         Populasi seperti apa yang hendak kita terangkan ?
·         Sumber daya apa sajakah yang kita miliki dan dapat kita kerahkan ?
Secara garis besar ada dua tujuan yang ingin dipenuhi pada saat merencanakan suatu penelitian :
·         Apakah peneliti akan atau tidak akan melakukan generalisasi dari subjek yang akan diteliti ?
·         Apakan peneliti akan menguraikan (describe) atau akan menerangkan  (explain) perilaku subjek penelitian peneliti.
B.      Desain Penelitian
1.       Pengertian Desain Penelitian
Desain penelitian dirancang untuk menjawab pertanyaan dan atau menguji hipotesis penelitian. Perlu diingat bahwa desain penelitian adalah sebuah rencana, sebuah garis besar tentang bagaimana peneliti akan memahai bentuk hubungan antara variable yang ia teliti.
Desain penelitian tidak ubahnya sebagai kerangka ; dimana peneliti akan menempatkan daging (variable) dan bagaimana pula ia akan menata system aliran darah (hubungan antara variable)

2.       Jenis-Jenis Desain Penelitian
Ada empat jenis pendekatan penelitian, yakni :
·         Eksploratoris
·         Deskriptif
·         Korelasional
·         Eksperimental
Pendekatan terakhir yaitu korelasional dan telebih lagi eksperimental mempunyai maksud yang lebih tinggi, yaitu menguji hipotesis. Pendekatan korelasional memusatkan hipotesisnya pada ada tidaknya ‘hubungan’, sedangkan pendekatan ekperimental memusatkan hipotesisnya pada ‘hubungan kausal’.
3.       Menggambarkan Desain Penelitian
Adalah sulit untuk menunjukkan perbedaan yang jelas antara model dan rancangan penelitian, meskipun keduanya tidak betul-betul sama. Desain penelitian dapat kita tampilkan dalam tiga bentuk :
·         Bentuk rumus atau ekuasi
·         Bentuk skematik
·         Bentuk diagramatik atau simbolik

4.       Menilai Sebuah Desain Penelitian
Ada dua kriteria untuk menilai validitas sebuah penelitian ekperimental, yaitu internal dan eksternal ; setiap kriteria ini harus diterapkan untuk menilai keampuhan sebuah desain penelitian. Validitas internal adalah tuntunan paling mendasar bagi sebuah desain penelitian.

B.      Desain Penelitain Ekperimental
Control ekperimental dapat dinilai dari upaya peneliti dalam hal :
·         Bagaimana ia melakukan random assignment (penugasan acak) terhadap individu yang diteliti kedalam kelompok yang akan dipertandingkan
·         Bagaimana peneliti memanipulasi variable independen
·         Bagaimana dan kapan ia melangsungkan pengukuran atau observasi terhadap variable dependen berlangsung
·         Kelompok mana yang diobservasi atau diukur

1.       Desain Pra-Eksperimental (PE)
Ditandai oleh tidak adanya upaya peneliti untuk menciptakan variable termanipulasi. Ciri keduanya adalah absennya upaya peneliti untuk melakukan penugasan acak. Banyak hambatan praktis, birokratis dan bahkan hambatan etis yang dihadapi peneliti, sehingga ia sulit bahkan tidak mungkin untuk menciptakan variable termanipulasi, apalagi untuk melakukan penugasan acak
a.       Bentuk Desain PE
1.       One-Shot Case Study
2.       One-Group Pre-Test-Posttest Design
3.       Static Group Comparison.
b.      Bahaya Invaliditas
Jenis ancaman terhadap validitas internal, adalah
1.       Histori
2.       Maturasi
3.       Testing
4.       Instruentasi
5.       Regresi Statistical
6.       Seleksi
7.       Mortalitas Ekperimental
8.       Interaksi Antar Factor

2.       Desain Ekperimental Sejati (ES)
Ada tiga jenis ES akan dibahas salam uraian. Desain ES lebih unggul daripada desain PE, paling tidak dengan dua alas an. Pertama, desain ES melibatkan setidaknya satu kelompok pembanding. Kedua, ia menggunakan penugasan acak atau random assignment, sebagai upaya untuk menyetarakan kelompok-kelompok pada awal ekperimen.
a.       Pre-Test-Posttest Control Group Design
b.      Posstest-Only Control Group Design
c.       Solomon Four-Group Design

3.       Desain Ekperimental Tidak Sungguhan (Eksperimental Kuas)
Desain eksperimental kuasi (EK) dapat dipakai jika desain ES tidak fesibel. Dengan desain EK kita dapat mengkontrol satu atau dua hal berikut :
·         Kapan Observasi Atau Pengukuran Kita Lakukan
·         Kapan Perlakuan Atau Variable Independen Akan Kita Perkenalkan
·         Kelompok Intak Mana Yang Akan Mendapatkan Perlakuan
Menurut Campbell dan Stanley, tentang desain penelitian eksperimental. Paling tidak ada tiga bentuk desain EK, yakni :
a.       Desain Tes Awal-Akhir (TAA)
·         Desain kelompok control tidak setara (KKTS)
·         Desain tes awal-akhir dengan sampel terpisah (TAAST)
Desain ini menunjukkan : (1) dua jejer symbol R yang menunjukkan dua subkelompok yang setara (2) satu sampel diukur sebelum perlakuan (3) kedua sampel mendapatkan  perlakuan, namun perlakuan yang diterima oleh sekelompok I sama sekali tidak ada kaitannya dengan desain (perhatikan X dalam tanda kurung) dan (4) subkelompok II diukur setelah menerima perlakuan.
b.      Desain serial waktu (SW)
Desain ini dapat dijagokan jika peneliti ingin menilai efek perlakuan terencana dan tidak terencana (ex post facto).
·         Desain serial waktu kelompok tunggal (SWKT)
·         Desain serial waktu kelompok gpeneliti (SWKG)
Empat contoh desain SWKG dimaksud
1.       Desain SWKG dengan perlakuan tidak berkelanjutan
2.       Desain SWKG dengan perlakuan dibalik tidak berkelanjutan
3.       Desain SWKG dengan perlakuan tunggal tidak berkelanjutan

4.       Desain SWKG dengan perlakuan tunggal berkelanjutan

Pengertian Tinjauan Pustaka dan Penyusunan Kerangka Pikir

TINJAUAN PUSTAKA DAN
PENYUSUNAN KERANGKA TEORI

A.      PENDAHULUAN
1.       Pengertian Tinjauan Pustaka
atau bias juga disebut literature, merupakan bagian yang sangat penting dari sebuah proposal atau laporan penelitian, karena pada bab ini juga diungkapkan pemikiran atau teori-teori yang melandasi dilakukannya penelitian. Tinjauan pustaka dapat diartikan sebagai kegiatan yang meliputi mencari, membaca dan menelaah laporan-laporan penelitian dan bahan pustaka yang memuat teori-teori yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan.

2.       Tujuan Melakukan Tinjauan Pustaka
Tinjauan purtaka bertujun untuk mengembangkan pemahaman dan wawasan yang menyeluruh tentang penelitian-penelitian yang pernah dilakukan dalam suatu topic.
a.       Membatasi masalah dan ruang lingkup penelitian
b.      Menemukan variable-variabel penelitian yang penting dan menentukan hubungan antar variable penelitian
c.       Mengetahui apa yang pernah dilakukan dalam penelitian sebelumnya dan menentukan apa yang perlu diteliti sekarang
d.      Menghindari pendekatan yang steril (tidak menghasilkan temuan yang berarti)
e.      Merangkum pengetahuan yang berkaitan dengan tipok penelitian
f.        Menemukan penjelasan yang dapat membantu dalam menafsirkan data penelitian.


B.      STRATEGI MENCARI SUMBER PUSTAKA
1.       Jenis-Jenis Sumber Pustaka
a.       Media Cetak
1.       Buku Acuan (General References)
2.       Sumber Pustaka Primer
amengenai kegiatan penelitian yang teah dilakukannya.
3.       Sumber Pustaka Sekunder
Setiap publikasi yang disusun oleh seorang penulis yang bukan pengamat langsung atau partispan dalam kegiatan yang digambarkan dalam pustaka tersebut.

b.      Media Non Cetak
1.       Mencari sumber pustaka yng berupa media non cetak
Ø  Menentkan masalah penelitian setepat mungkin
Ø  Mencari dan mampelajari sumber pustaka sekunder
Ø  Memilih buku acuan yang tepat
Ø  Menentukan kata-kata kunci yang relevan
Ø  Mencari sumber pustaka prmer yang relevan
Ø  Mendapatkan sumber pustaka yang tidak dan sedia di perpustakaan

c.       Media Elektronik
1.       Mencari informasi di internet
2.       Tiranti dan cara ekses (telnet, FTP dan browser )






C.      MENYAJIKAN HASIL TINJAUAN PUSTAKA
1.       Menelaah Sumber Pustaka
2.       Memilih Sumber Pustaka yang Telah di Telaah
a.       Relevansi sumber pustaka
b.      Kemutakhiran pustaka
3.       Menelaah Artikel Penelitian
Artinya mengkaji atau mengefaluasi artikel tersebut berdasarkan criteria yang telah kita tetapkan sebelumnya. Format penulisan artikel penelitian biasanya meliputi lima aspek sebagai berikut :
a.       Pedahuluan singkat
b.      Tujuan penetian, pertanyaan penelitian atau hipotesis yang akan di uji
c.       Prosedur penelitian( termasuk penjelasan mengenai karakretistik subjek penelitian, alat ukur atau intrumen yang di gunakan, dan rangcangan penelitian)
d.      Temuan penelitian
e.      Kesimpulan dan rekomendasi

4.       Menyusun Kerangka Teori Penelitian
Biasanya bab yang memuat tentang kerangka teori  penelitian ini di sebut sebagai bab tinjauan pustaka. Bab tinjauan pustaka merupakan suatu pengantar yang bertujuan untuk menjelaskan dasar pemikiran atau dasar teori yang di gunakan dalam penelitian.
Rencana penyajian hasil tinjauan pustaka harus dibuat sejelas mungkin. Bila penyajiannya tidak terorganisir maka bab ini akan kehilangan struktur, kesatuan, dan keterikatan antara hal-hal yang dibahas.
Sebagai contoh, bab tinjauan pustaka yang akan disusun dapat mempunyai outline sebagai berikut :

Bab Tinjauan Pustaka :
·         Pendahuluan (menjelaskan teori-teori yang relevan)
·         Subjudul 1 : variable penelitian (berisi penjelasan tentang variable penelitian dan temuan-temuan yang relevan)
·         Subjudul 2 : pendekatan penelitian (berisi tentang penjelasan mengenai mengapa pendekatan ini yang dipilih, apa kelebihannya, dan penelitian penting mana yang pernah menggunakannya serta temuannya)

·         Subjudul 3 : kerangka teori (berisi penjelasan tentang hubungan antar variable yang disusun)

Pengertian Ruang Lingkup dan Tujuan Penelitian

RUANG LINGKUP DAN TUJUAN
PENELITIAN PENDIDIKAN

A.      PENDAHULUAN
1.       Penilitian Penilitian
Penilitian diartikan sebagai proses mengumpulkan dan menganilis data atau informasi secara sistematis sehingga mengahasilkan kesimpulan yang sah. Kata-kata sistematis dan sah merupakan kata kunci karena mengacu pada suatu pendekatan yang digunakan dalam dunia akademis yang disebut dengan “Metode Ilmiah”

2.       Metode Ilmiah
Langkah-langkah yang ditempuh dalam metode ilmiah merupakan langkah yang hierarkis (berjenjang atau berurutan) dan logis. Dalam peniilitian, langkah-langkah tersebut  secara tipikal dapat dirinci sebagai berikut : (1) mengenali dan menentukan masalah yang akan diteliti. (2) Mengkaji teori yang sudah ada yang relevan dengan masalah yang hendak diteliti. (3) mengajukan hipotesis atau pernyatakan penilitian. (4) membuat desain penilitian untuk menguji hipotesis tersebut. (5) mengumpulkan data  dengan menggunakan prosedur yang data mengacu pada desain penilitian. (6) menganalisis data. (7) menginterprestassikan data dan menarik kesimpulan. Dalam penelitian penarikan kesimpulan yang tidak menggunakan pendekatan atau metode ilmiah dapat dikatakan tidak sah.

3.       Hasil penelitian sebagai pengetahuan ilmiah
a.       Objektif
Mengacu pada prosedur pengumpulan dan analisi data sehingga peneliti tidak mungkin menginterprestasikan hasil penelitiannya secara salah.
b.      Presisi (Kejelasan Bahasa)

c.       Dapat Diverifikasi
Keterbukaan untuk verifikasi ini terkait dengan dua aspek sebelumnya, yakni objektifitas dan akurasi. Istilah verifiaksi disini berarti segala informasi dalam penelitian tersebut terbuka bagi public untuk ditelaah kembali dan dikritik, diinformasi atau ditolak oleh peneliti lain.
d.      Empiric
Pengertian empiris bagi orang awam tampaknya perlu dibedakan dengan pengertian empiris bagi peneliti. Data empiris bukan data fiktif, berarti data tersebut diperoleh dari  hasil pengamatan yang diperoleh dengan prosedur yang sistematis dan objektif. Data merupakan pijakan bagi peneliti untuk membuat interprestasi atau menari kesimpulan secara induktif maupun deduktif.

4.       Penelitian pendidikan
a.       Pengertian
Penelitian pendidikan adalah upaya ilmiah untuk memahami masalah-masalah yang ada di dunia pendidikan.
b.      Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian pendidikan merupakan kajian yang terkait erat dengan beberapa disiplin ilmu seperti psikologi, sosiologi, antropologi, politik dan ekonomi.
c.       Keterbatasan
Ø  Kompleksitas
Merupakan batasan karena fenomena yan g muncul dalam penelitian pendidikan merupakan dampak interaksi antar pelaku yang ada dalam dunia pendidikan itu sendiri (orang tua, guru, siswa, masyarakat dsb)
Ø  Metedologi yang Digunakan
Metode yang digunakan untuk pengukuran tersebut tidak mudah karena konsep yang diukur seperti intelegensi, prestasi, gaya kepemimpinan dan kelompok interaktif masih bias diperdebatkan.


d.      Fungsi
Fungsi penelitian pendidikan dapat dilihat dari dua sudut pandang, yakni : sudut perkembangan teori dan sudutpraktik atau penyelenggaraan pendidikan. Dan sudut  pandang praktik, kegiatan penelitian itu sendiri sebenarnya tak lebih dari proses akumulasi temuan-temuan atau teori-teori baru.
e.      Manfaat
Ø  Peta yang menggambarkan tentang keadaan pendidikan dan  melukiskan tentan kemampuan sumber daya, kemungkinan pengembangan serta hambatan-hambatan yang dihadapi atau mungkin ditemukan dalam penyelenggaraan pendidikan.
Ø  Sarana diagnosis dalam mencari sebab kegagalan serta masalah yang dihadapi dalam peaksanan pendidikan sehingga dengan mudah dapat dicari upaya penanggulangannya.
Ø  Sarana untuk menyusun kebijakan dalam menyusun strategi pengembangan penidikan.
Ø  Masukan yang membrikan gambara tentang kemampuan dalam pembiayaan, peralatan, perbekalan, serta tenaga kerja baik yang scara kuantitas maupun kuaitas sangat berperan bagi keberhasilan dalam bidang pendidikan.

5.       PERUMUSAN MASALAH
1.       Mengidentifikasi Masalah
Ada tiga karakteristik yang perlu diperhatikan dalam mengidentifikasi masalah. Pertama adalah masalah tersebut layak diteliti. Kedua adalah masalah tersebut memiliki teroritis dan praktis. Ketiga adalah realistis.

2.       Memfokuskan Masalah
Memfokuskan masalah adalah memilih dan menentukan masalah yang diminati dan menguraikan masalah yang terlalu umum tersebut menjadi masalah yang spesifik.


3.       Merumuskan Masalah
Dalam perumusan masalah, satu hal yang perlu diperhatikan adalah rumusan tersebut hendaknya jelas dan operasional sehingga tidak terbuka peluang terjadinya salah tafsir jika rumusan tersebut dibaca oleh orang lain.

6.       PERUMUSAN TUJUAN PENELITIAN
1.       Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan bagian dari rencana penelitian secara keseluruhan dan tujuan tersebut harus dirumuskan dengan jelas dan spesifik.

2.       Fungsi dan Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian, dalam hal ini sebenarnya berfungsi sebagai arah, petunjuk atau pengontrol yang memandu agar seluruh tahapan-tahapan aktifitas penelitian yang akan dilakukan tidak menyimpang.

3.       Hubungan Antara Masalah dengan Tujuan Penelitian
Keterkaitan antara tujuan dengan masalah penelitian sangat erat sekali karena dasar yang digunakan sebagai titik tumpu perumusan tujuan adalah masalah penelitian itu sendiri.

4.       Teknik Merumuskan Tujuan Penelitian
Tujuan penelitan dapat dirumuskan langsung dalam bentuk butir-butir tujuan atau dirumuskan dalam bentuk tujuan umum terlebih dahulu kemudian baru merincinya dalam bentuk butir-butir tujuan yang lebih spesifik.

5.       Kategori Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan penelitian dapat dikategorikan menjadi tiga jenis yaitu
a.       Ekplorasi
Peneltian yang akan dilakukan oleh di peneliti memang bersifat ekploratif. Artinya, atau focus kajian yang diteliti merupakan topic yang relative baru atau sama sekali belum pernah diteliti.
b.      Deskripsi
Dicirikan dengan keinginan si peneliti untuk melukiskan atau menggambarkan secara verbal dan grafis terhadap situasi atau peristiwa yang diamati. 
c.       Ekplanasi
Mencari jawaban atas pertanyaan “mengapa”.

7.       HIPOTESIS PENELITIAN
1.       Perumusan Hipotesis
Hipotesis dapat diartikan sebagai rumusan jawaban sementara atau dugaan, sehingga untuk membuktikan benar tidaknya dugaan tersebut perlu diuji terlebih dahulu.

2.       Karakteristik hipotesis yang baik
Suatu hipotesis harus mempunyai landasan yang ilmiah atau rasional. Suatu hipotesis juga harus memiliki kesinambungan dari penelitian yang sebelumnya ke penelitian yang selanjutnya yang akan dilakukan si peneliti.
a.       Rasional
b.      Dua Variable atau Lebih
c.       Dapat Diuji

3.       Jenis-Jenis Hipotesis
a.       Hipotesis Deduktif
Adalah pola atau logika yang bermula dari hal yang bersifat umum  kemudian mengarah ke hal yang spesifik
b.      Hipotesis Induktif
Adalah pola proses logika yang bermula dari hal yang spesifik kemudian mengarah yang umum.
Selain itu hipotesis dapat diklarifikasikan dari sudut pandang perumusan annya adalah :
a.       Hipotesis Penelitaan

b.      Hipotesis Nol

reduksi urin

A.   Reduksi Urine

Pemeriksaan reduksi urine merupakan bagian dari pemeriksaan urine rutin yang selalu dilakukan di klinik. Hasil yang (+) menunjukkan adanya glukosuria. Beberapa hal yang perlu diingat dari hasil pemeriksaan reduksi urine adalah:
Digunakan pada pemeriksaan pertama sekali untuk tes skrining, bukan untuk menegakkan diagnosis

1)    Nilai (+) sampai (++++) Jika reduksi (+): masih mungkin oleh sebab lain, seperti: renal glukosuria, obat-obatan, dan lainnya
2)    Reduksi (++) → kemungkinan KGD: 200 – 300 mg%
3)    Reduksi (+++)→ kemungkinan KGD: 300 – 400 mg%
4)    Reduksi (++++)→ kemungkinan KGD: ≥ 400 mg%

Dapat digunakan untuk kontrol hasil pengobatan Bila ada gangguan fungsi ginjal, tidak bisa dijadikan pedoman.



B.   Kadar Protein Pada Wanita Hamil

Tabel I : Kadar protein pada wanita yang tidak hamil dan hamil

Tidak Hamil
Hamil
Protein Plasma
81,00 gr/l
75,00 gr/l
Albumin/ Globulin Rasio
1,32 gr/l
0,80 gr/l
Albumin
4,25 gr/l
3,25 gr/l
β Globulin
10,00 gr/l
13,00 gr/l
Disalin dari : Callender R12
Protenuria adalah terdapatnya protein dalam urin 300mg/jam atau >100
mg/dl. Diagnosis PE tidak lengkap tanpa adanya protenuria.
Sejumlah kecil protein dijumpai di urin dan pada wanita tidak hamil rata-rata ± 18 mg / 24 jam. Pada kehamilan normal jumlah ini dapat meningkat hingga 300 mg/24 jam. Protenuria dapat dideteksi dengan menggunakan test dipstick, yang juga dapat menilai p H, Berat Jenis (BJ) dan sendimen urin. Pemeriksaan lain yang lebih sederhana adalah percobaan rebus, dimana hasilnya bervariasi antara 1+ sampai dengan 4+. Metode ini lebih banyak
menentukan secara kwalitatif dari pada kwntitatif. Proteinuria 1+ pada urin
yang encer tetapi dengan volume sehari yang cukup tinggi memberi hasil
proteinuria yang berarti secara klinis. Hubungan proteinuria kwalitatif
terhadap jumlah protein.

1 + = 0,30 - 0,45 gram / liter
2 + = 0,45 - 1,00 gram / liter
3 + = > 1,00 - < 3,00 gram / liter
4 + = 3,00 gram / liter

Pemeriksaan khusus proteinuria yaitu, protein klirens (selektivitas proteinria).
Hal ini untuk mengetahui jenis protein yang diekskresi. Pemeriksaan
proteinuria yang terbaik adalah pengukuran kwantitatif protein total dalam 24
jam.


Thursday, November 27, 2014

Halusinasi

Halusinasi adalah gangguan jiwa dimana klien men galami perubahan respon sensorik persepsi,merasakan sensasi palsu berupa suara,penglihatan,pengecapan perabaan atau penghiduan. Klien merassa stimulus yang tidak ada ( damaiyanti 2008)

Halusinasi adalah persepsi yang tanpa dijumpai adanya rangsangan dari luar. Walaupun tampak sebagai sesuatu yang khayal halusinasi sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan mental penderita yang tersepsi ( yosep 2010)

Halusinasi adalah perubahan dalam jumlah atau pola stimulus yang datang dsertai gangguan respon yang kurang berlebihan atau distorsi terhadap stimulus tersebut (nanda - 2012)

A.Psikodinamika
1.Etiologi
Menurut Ann Isaacs (2007) halusinasi dapat terjadi pada klien dengan gangguan jiwa seperti skizofrenia, depresi atau keadaan psiko lainnya seperti:
a.Halusinasi dapat terjadi akibat keabnormalan perkembangan syaraf.
b.Halusinasi dapat terjadi akibat efek samping dari pengobatan (anti depresi, anti kolinergik, anti inflamasi, anti biotik dan pemberian obat-obatan halusinogenik).
c.Halusinasi terjadi pada saat keabnormalan struktur otak yang meliputi pembesaran ventrikel, penurunan aliran darah kortikal dan atrofi serebri.
d.Halusinasi terjadi karena proses psikososial dan lingkungan yang dipengaruhi dari keluarga, perkembangan, sosial ekonomi.

2.Proses Perjalanan Penyakit
Abnormalitas otak yang menyebabkan respoan neurobiologik yang maladaptif karena adanya lesi pada area frontal, temporal dan limbic. Sehingga mengakibatkan terjadinya gangguan pada otak dan ketidakseimbangan antara dopamin dan neurotrasmiter lainnya.

3.Macam-macam halusinasi 
a.Halusinasi Pendengaran (Auditorik)
Klien mendengar suara-suara yang membicarakan, mengejek, mengancam dirinya padahal tidak ada suara disekitarnya.
b.Halusinasi Penglihatan (visual)
Klien merasa melihat pemandangan, orang, binatang, atau sesuatu yang tidak ada objeknya.

c.Halusinasi Penciuman
Klien sering mencium bau-bauan seperti bunga, bau kemenyan, bau mayat dan sebagainya yanga tidak ada sumbernya.
d.Halusinasi Pengecapan
Klien merasa mengecap Sesuatu dimulutnya, padahal tidak ada sesuatu       dimulutnya.
e.Halusinasi Peraba (Taktil)
Klien merasa ada binatang yang merayap pada kulitnya atau ada orang yang memukulnya.

4.Tahap-tahap Halusinasi
a.Tahap I: Memberikan rasa nyaman
Tingkat kecemasan sedang, halusinasi merupakan sesuatu yang menyenangkan.
Karakteristik: mengalami ansietas, kesepian, rasa bersalahdan ketakutan untuk mencoba berfokus pada penenangan pikiran untuk mengurangi ansietasnya, individu mengetahui bahwa pikiran dan sensori yang dialami tersebut dapat dikendalikan jika ansietasnya dapat diatasi.
b.Tahap II: Menyalahkan
Tingkat kecemasan berat, menyebabkan rasa antipati.
Karakteristik: pengalaman sensori menakutkan, mulai merasa kehilangan kendali, merasa dilecehkan oleh pengalaman sensori tersebut sehingga klien menarik diri dari orang lain.
c.Tahap III: Mengendalikan
Tingkat kecemasan berat, pengalaman sensori tidak dapat ditolak lagi. Karakteristik: klien menyerah dan menerima halusinasinya, isi halusinasi menjadi aktifitas dan merasa kesepian bila pengalaman sensori tidak ada.
d.Tahap IV: Menguasai
Tingkat kecemasan panik, secara umum diatur dan dipengaruhi oleh halusinasi. Karakteristik: pengalaman sensori menjadi mengancam, halusinasi dapat berlangsung selama beberapa jam atau hari.

5.Komplikasi
a.Isolasi Sosial  
Klien menghindar dari orang lain karena tidak peka terhadap sesuatu yang tidak nyata.
b.Prilaku Kekerasan
Muncul prilaku untuk menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan yang diakibatkan dari persepsi sensori yang tidak nyata tanpa adanya stimulus eksternal.

c.Defisit Perawatan Diri 
Klien tidak memperhatikan personal hygiene karena hanya berfokus pada       halusinasinya.