Monday, April 13, 2015

SETANDAR TEKNIS PERKERASAN JALAN


A.


STANDAR TEKNIS PERKERASAN JALAN DESA

 


Apa itu Jalan desa


Adalah jalan yang dapat dikategorikan sebagai jalan dengan fungsi lokal di daerah pedesaan. Arti fungsi lokal daerah pedesaan yaitu :

  1. sebagai penghubung antar desa atau ke lokasi pemasaran
  2. sebagai penghubung hunian/perumahan
  3. penghubung desa ke pusat kegiatan yang lebih tinggi tingkatnya (kecamatan)

 


Manfaat dibangun Jalan Desa

  1. Memperlancar hubungan dan komunikasi dengan tempat lain,
  2. Mempermudah pengiriman sarana produksi ke desa,
  3. Mempermudah pengiriman hasil produksi ke pasar, baik yang di desa maupun yang di luar, dan
  4. Menigkatkan jasa pelayanan sosial, termasuk kesehatan, pendidikan, dan penyuluhan.

 


Kriteria Jalan Desa

  1. trase jalan mudah untuk dibuat
  2. pekerjaan tanahnya relatif cepat dan murah
  3. tidak banyak bangunan tambahan (jembatan, gorong-gorong, dll)
  4. pembebasan tanah tidak sulit
  5. tidak akan merusak lingkungan dan yang perlu diperhatikan dalam peningkatan jalan lama antara lain :
  6. lokasi memungkinkan untuk pelebaran jalan
  7. geometri jalan harus disesuaikan dengan syarat teknis
  8. tanjakan yang melewati batas harus diubah sesuai syarat teknis
  9. sistem drainase dan pekerjaan tanah tidak akan merusak lingkungan

 


Azas Pemilihan Teknologi

  1. menggunakan tenaga kerja setempat
  2. mengutamakan penggunaan bahan setempat
  3. membangun prasarana sederhana yang dapat dikerjakan masyarakat setempat
  4. membangun prasarana yang bermutu
  5. mencari harga satuan yang relatif murah namun baik
  6. dapat memilih teknologi lain namun sesuai standar teknis PNPM-MPd
  7. larangan yang ada berlaku pada masalah yang kurang sesuai dengan kriteria, misalnya Penggunaan Jembatan Beton atau permukaan aspal.
  8. Menerima masukan teknis dari yang berkompeten pada bidangnya.

 


 


STANDAR TEKNIS JALAN


Pertimbangan Drainase


Drainase (siring) diperlukan karena air mempunyai pengaruh yang buruk untuk jalan, antara lain yaitu :

  1. 1.      Jalan menjadi jelek jika badan jalan tidak cepat kering sehabis hujan
  2. 2.     Jalan akan mudah terputus (pavement erosions) bila air dibiarkan melintangi permukaan jalan
  3. 3.     Jalan menjadi rusak bila air dibiarkan mengalirdi tengah jalan
  4. 4.     Jalan menjadi bergelombang bila fondasi jalan tidak kering

Pertimbangan yang paling sederhana dari masalah drainase adalah :

  1. Jalan kawasan perbukitan diusahakan mengikuti punggung bukit karena jalan yang mengikuti punggung bukit tidak akan mengalami masalah drainase sebab air tidak perlu melintangi jalan.
  2. Jalan yang dibuat pada lereng bukit harus ada galian dan timbunan, selokan pinggir jalan, talud, gorong-gorong dan bangunan pelengkap lainnya.
  3. Jalan yang dibangun di lembah (cekungan) sebaiknya dihindari karena kemungkinan jalan tidak bisa dikeringkan.

Geometri Jalan


Jalan direncanakan untuk kecepatan 15 s.d. 20 km/jam, pandangan bebas harus memperhatikan keselamatan pemakai jalan yaitu :

  1. Tikungan vertical dengan pandangan bebas 30 m
  2. Tikungan horizontal dibuat dengan pandangan bebas 30 m
  3. Jari-jari tikungan minimal 10 m dan untuk tikungan tajam perkerasan dibuat dengan pelebaran dan kemiringan melintang miring ke dalam. 

Tempat Persimpangan


Jalan direncanakan untuk kecepatan 15 s.d. 20 km/jam, pandangan bebas harus memperhatikan keselamatan pemakai jalan yaitu :

  1. Tikungan vertical dengan pandangan bebas 30 m
  2. Tikungan horizontal dibuat dengan pandangan bebas 30 m
  3. Jari-jari tikungan minimal 10 m dan untuk tikungan tajam perkerasan dibuat dengan pelebaran dan kemiringan melintang miring ke dalam. 

Tanjakan Jalan


  • Tanjakan diukur dengan rumus “jumlah meter naik per setiap seratus meter horizontal “ (10 m naik per 100 m horizontal sama dengan tanjakan 10 %).
  • Untuk peningkatan keselamatan dan penggunaan jalan, pilih trase jalan tanjakan yang tidak terlalu curam. Jika jalan menanjak terus, tanjakan maksimal dibatasi 7 %.
  • Pada bagian pendek, tanjakan di batasi 20 %. Setelah 150 m, harus disediakan bagian datar atau menurun.

Tikungan pada Tanjakan Curam


Pada daerah perbukitan sering dijumpai pada jalan yang menanjak dengan kemiringan > 10%. Bila terdapat tikungan tajam didaerah tersebut jalan harus direncanakan sebagai berikut :

  • Perkerasan pada tikungan diperlebar menjadi > 4 m
  • Tikungan dibuat pada bagian datar untuk mempermudah perjalanan bagi yang naik atau turun
  • Perencanaan drainase jalan dibuat sedemikian hingga saluran dari atas diteruskan lurus ke depan dan airnya dibuang jauh dari jalan, dan saluran pada jalan bagian bawah dimulai dari luar bagian datar (sesudah tikungan)

Bentuk Badan Jalan


Penentuan bentuk badan jalan disarankan sebagai berikut.

  • Pada kondisi biasa badan jalan dibuat miring ke saluran tepi dengan kemiringan badan jalan 4-5%.
  • Untuk daerah relatif datar, badan jalan dibuat seperti “punggung sapi” (lebih tinggi ± 6-8 cm di bagian tengah) dengan catatan bila punggung sapi sudah terlihat  dengan mata telanjang berarti sudah cukup miring untuk drainase.
  • Pada tikungan jalan dibuat miring ke dalam  dengan kemiringan maksimal 10% dan perlebaran perkerasan dibagian dalam tikungan demi keamanan dan kenyamanan.
  • Pada jurang jalan dibuat miring ke arah bukit dan saluran, hal ini demi keselamatan dan drainase.

Bentuk Badan Jalan di Daerah Curam


Badan jalan di daerah curam  harus dibuat miring ke bukit dan saluran tepi jalan. Ukuran saluran minimum 50 cm dalam × 30 cm lebar, dengan bentuk trapesium. Kemiringan tebing maksimum 2 : 1, dengan galian /keprasan maksimal disarankan 4,00 meter. Timbunan maksimal 1,50 m.


Permukaan Jalan


Penentuan tebal lapisan batu belah disesuaikan dengan kebutuhan (jenis dan frekuensi lalu lintas) dan ketersediaan batu. Untuk tebal lapisan 15 cm digunakan batu belah/ pecah dengan ukuran 10/15, dan untuk ukuran batu 15/20 biasanya digunakan untuk lapisan dengan tebal 20 cm. Lapisan batu belah dapat diganti dengan lapisan sirtu (pasir & batu tebal 20 cm), terutama untuk daerah kesulitan batu dan mempunyai tanah dasar yang stabil. Batu belah/pecah harus bersifat keras dan minimal mempunyai tiga bidang pecah.

Petunjuk pelaksanaan untuk perkerasan jalan antara lain :

  • Tanah asli di bawah lapis pondasi harus dipadatkan dengan alat pemadat (mesin gilas, steamper, timbres) dengan kemiringan yang direncanakan untuk permukaan.
  • Lapisan pondasi paling bawah adalah lapisan pasir yang berfungsi untuk memudahkan pemasangan batu permukaan dengan rapi dan rata.
  • Batu belah harus dipasang tegak lurus dengan as jalan (melintang), dengan ujung yang lebih runcing di atas agar bila terbebani tidak akan tembus lapisan pasir dasar, dan dikunci dengan batu kecil.
  • Lapisan paling atas berupa campuran pasir dengan tanah terpilih, atau dapat terbuat dari sirtu dan atau krosok dengan tebal 2 cm, yang kemudian dipadatkan dengan mesin gilas roda besi (tandem roller)

 

Bahu Jalan


 

Fungsi Bahu Jalan

  • Pelindung permukaan jalan
  • Perantara antara aliran air hujan yang ada di permukaan jalan menuju saluran tepi.
  • Tempat pemberhentian sementara.

Persyaratan teknis bahu jalan

  1. Dibuat disebelah kiri dan atau kanan sepanjang jalan, dengan lebar minimum 50 cm
  2. Harus dibuat dengan kemiringan yang lebih miring dari permukaan jalan, biasanya 6-8 cm (sama dengan turun 3-4 cm per 50 m’)
  3. Material penyusunnya seharusnya terdiri dari tanah yang dapat ditembusi air, sehingga pondasi jalan dapat dikeringkan melalui proses perembesan.
  4. Tanah pada bahu jalan harus dipadatkan.
  5. Lebih baik bila ditanami rumput ditepi luar bahu, mulai 20 cm dari tepi yang berfungsi sebagai stabilisasi tepi jalan.
  6. Penanaman pohon perdu di luar bahu (dan saluran bila ada) untuk membantu stabilitas timbunan baru.

Pemadatan Tanah


Tanah pada bagian galian tidak perlu dipadatkan lagi kecuali pernah mengalami gangguan yang mengakibatkan tanah menjadi kurang padat.

Sebelum kegiatan pemasangan perkerasan jalan, semua daerah timbunan harus dipadatkan dengan mesin gilas, steamper, atau trimbisan. Pemadatan ini membantu menjaga stabilitas dan daya dukung / tahan badan jalan.

Proses pemadatan dilakukan pada kadar air tanah optimum yaitu tanah pada keadaan sedikit basah, tetapi kalau digenggam tidak ada air mengalir ke luar.

Pelaksanaan pemadatan tanah dilakukan lapis demi lapis dengan setiap lapis mempunyai tebal maksimum 20 cm. Untuk daerah tempat tanah dasarnya jelek, maka badan jalan harus diadakan perkuatan, misalnya cerucuk atau stabilisasi.


Perlindungan Tebing


Cara yang digunakan untuk perlindungan tebing antara lain :

  1. 1.      Saluran Diversi digunakan untuk menangkap air yang mengalir dari lereng di atas menuju tebing, agar air tidak terbuang melalui tebing. Isi saluran diversi harus dibuang ke tempat yang lebih aman. Bila aliran airnya cepat, saluran diversi harus dilindungi dengan pasangan batu, batu kosong, rumput atau terjunan seperti saluran lain. Saluran diversi digunakan terutama untuk tebing dengan puncak lereng masih jauh diatas tebing jalan.
  2. 2.     Teras Bangku dapat dilakukan dengan syarat lahan dapat dikorbankan untuk membentuk teras dan jenis tanah dapat dibentuk dengan stabil. Teras dibuat sejajar dengan kontur (kemiringan maksimal 2%). Setiap 10 m panjang air diterjunkan dari saluran ke bawah, dan penerjunan harus diperkuat seperti bangunan terjun yang lain. Dimensi teras minimal adalah 50 cm lebar dan 1.00 m tinggi.
  3. 3.     Talud Batu Kosong dapat disusun pada tebing, tetapi tebing harus dikepras agar tidak tegak lurus. Aliran air dipermukaan dialihkan dari talud batu kosong melalui saluran diversi.
  4. 4.     Talud Pasangan Batu relative kuat, namun relatif mahal. Pasangan batu harus diberikan suling untuk membuang air tanah dari belakang tembok. Ujung dalam suling harus diberi saringan kecil dari ijuk. Pasangan batu harus dibuat dengan pondasi yang tidak akan bergerak, karena pasangan batu tidak fleksibel sama sekali. Ukuran bawah pasangan batu disesuaikan dengan standar Bina Marga.
  5. 5.     Bronjong adalah cara yang kuat dan cukup fleksibel, tetapi relatif lebih mahal. Agar posisi bronjong stabil dan tidak lari, pancangan diberikan pada tingkat bronjong yang paling bawah, dengan jarak pancang setiap 1 – 1½ m dan ukuran pancangan 12-15 cm. Dipancang sampai lapisan tanah keras. Kegunaan bronjong untuk menahan timbunan baru atau melindungi tebing dari aliran air.
  6. 6.     Perlakuan Vegetatif adalah cara yang relatif efektif dan murah , yaitu dengan menanami tebing dengan berbagai jenis tanaman.

Saluran Pinggir Jalan


Saluran yang berdekatan dengan bahu jalan diperlukan disebelah kanan dan kiri jalan, kecuali :

  1. Jalan dibuat dipunggung bukit (bentuk Punggung Sapi)
  2. Jalan dibuat dilereng bukit, tidak perlu saluran di sebelah bawah
  3. Badan jalan diurug lebih dari 50 cm

Untuk keadaan biasa dimensi saluran harus berukuran minimal 50 cm (dalam) dan 30 cm (lebar dasar), dengan lebar atas 50 cm (bentuk trapesium).

Syarat saluran pinggir jalan :

  1. Saluran dibuat sejajar dengan jalan
  2. Dasar saluran dibuat kemiringan yang rendah untuk menghindari erosi tanah dasar saluran/plesteran dasar, namun tidak datar.
  3. Ketinggian dasar saluran harus lebih rendah dibanding lapisan pasir dibawah pondasi jalan untuk proses perembesan dan pengeringan pondasi jalan. 
  4. Untuk saluran yang mudah erosi, perlindungan terdiri dari perkuatan talud dan dasar saluran serta pemberian bangunan drop struktur. Jenis perlidungan saluran antara lain dengan menggunakan rumput (gebalan), turap, batu kosong, atau pasangan. Bronjong dapat digunakan terutama pada tikungan di tanah yang peka erosi.

Pertimbangan untuk pemilihan tipe perlindungan saluran pinggir adalah :

  1. Kemiringan saluran dan kecepatan air
  2. Jenis tanah
  3. Perubahan arah aliran pada belokan
  4. Debit air. 

Pembuangan dari Saluran dan Gorong-gorong


Fungsi dari saluran ini adalah untuk mencegah kerusakan akibat pengaliran air yang tak terkendali. Syarat teknis untuk saluran ini antara lain :

  1. Direncanakan untuk mengalirkan air ke sungai atau saluran yang mampu mengalirkan volume air tanpa merusak lingkungan
  2. Diawali dari gorong-gorong, saluran pinggir yang overloud  dan berhenti pada sungai atau saluran besar yang ada.
  3. Ukuran saluran didesain dengan debit air terbesar, dengan ukuran minimal sama dengan ukuran saluran pinggir yang standar (50 × 30)cm.
  4. Saluran ini harus dilindungi seperti saluran-saluran lain, untuk mencegah erosi dasar dan talud saluran.

Drainase Air Tanah


Perlakuan ini bertujuan untuk mencegah air tanah naik ke permukaan jalan sehingga jalan tetap dalam keadaan stabil dan tidak kehilangan agregat halusnya.

Contoh 5 rembesan dari air tanah yang memerlukan perencanaan darinase air tanah yaitu :

  1. Rembesan dari permukaan jalan
  2. Rembesan dari tebing
  3. Rembesan dari pondasi jalan
  4. Tempat  rendah (lembah/cekungan) dimana tanah asli menurun ke jalan
  5. Terdapat kantong air di atas lapisan kedap air

 

 

 

 
   

 

Contoh Rembesan dari Air Tanah

Cara penanggulangannya dipilih berdasar jenis masalah yang dihadapi, antara lain dengan cara :

  1. Masalah : Air dari Tebing

      Cara pencegahan : Tebing dilindungi dan air dibuang melalui saluran pinggir jalan

  1. Masalah : Air dari pondasi atau air dari permukaan jalan

      Cara pencegahan :

  1. Tanah digali cukup dalam dan diganti dengan tanah yang tertembus air tetapi tidak mudah terbawa air, seperti sirtu yang terpilih
  2. Dipasang pipa pralon melintang jalan, ukuran 10 cm dan dilubangi dan dilapisi ijuk. Bak penampung / kontrol dibuat jika perlu
  3. Dibuat drainase melintang jalan seperti gambar pada halaman berikut

 

 
   
 

  1. Dibuat laisan kedap air di bawah jalan dengan plastik atau tanah pudel
  2. Masalah : Air di Tempat Rendah

      Cara penanggulangan : Di buat drainase seperti drainase melintang (hal yang ketiga diatas)

  1. Masalah : Diatas Lapisan Kedap Air

      Cara penanggulangan :

  1. Digali saluran drainase untuk membuang air dari kantong air
  2. Tanah diganti
  3. Jalan dipindahkan ke tempat yang bebas dari masalah drainase
  4. Dibuat lapisan kedap air di bawah jalan dengan plastik atau tanah pudel

Khusus masalah ini dilakukan untuk pogram peningkatan jalan dan mengalami masalah drainase.


Perlakuan Vegetatif


Cara ini sangat baik bila dikaitkan dengan fungsi konservasi seperti untuk mengurangi aliran permukaan dan meningkatkan infiltrasi. Nilai tambah lain dari perlakuan vegetatif yaitu :

  1. 1.           Lebih murah dibanding perlakuan sipil teknis
  2. 2.          Dapat memiliki nilai ekonomi sebagai sumber kayu bakar dan pakan ternak
  3. 3.          Mudah dilakukan dan terjangkau oleh masyarakat sekitar tanpa bantuan proyek.   

Perlakuan vegetatif pada jalan dari fungsi konservasi mempunyai dua sasaran utama yaitu mencegah erosi dan longsor.

Contoh pengendalian erosi dan longsor yang terjadi pada jalan dengan cara perlakuan vegetatif penanaman rumput / leguminosa, karena dapat membentuk gebalan yang padat, memberi kesempatan air hujan untuk infiltrasi ke dalam tanah, mengurangi pukulan air hujan secara langsung, mengurangi erosi percikan karena ada sistem perlindungan oleh tajuk dan mulsa daun, menghambat pergerakan sedimen. 

Langkah-langkah untuk pemilihan jenis tanaman untuk perlakuan vegetatif yang bersifat konservasi antara lain :

(1)       Mengumpulkan data yang bersifat informasi tentang keadaan lokasi, termasuk ketinggian tempat, jumlah curah hujan dan lama musim kemarau, jenis dan tekstur tanah, dan keasaman tanah (pH).

(2)       Mengamati jenis tumbuhan yang sudah ada di sekitar lokasi perlindungan.

(3)       Mengetahui fungsi tanaman yang diperlukan untuk mengatasi masalah konservasi yang ada. 

(4)      Penentuan jenis tanaman yang dapat tumbuh dengan baik di lokasi, berdasarkan syarat tumbuh.

(5)      Mencari informasi tentang persediaan bahan tanaman untuk ditanam.

(6)      Memutuskan jenis tanaman yang layak untuk lokasi tersebut, ditinjau dari aspek teknis, ekonomi, dan sosial.

Aspek yang dipertimbangkan dalam penentuan jenis tanaman :

(1)       Sesuai dengan jenis tanah, iklim, tinggi tempat dan sifat perakaran

(2)       Bersifat agresif (dalam waktu pendek mampu menutup tanah seluas mungkin)

(3)       Berumur panjang

(4)      Disukai ternak atau tidak

(5)       Aman bagi jalan dan pemakai jalan

(6)       Berfungsi juga dalam estetika

(7)       Bernilai ekonomis dan bermanfaat (sebagai pakan ternak atau kayu bakar, dll)


Stabilisasi


Proses ini dilakukan dengan menambah sedikit bahan tertentu pada tanah asli.

Bila tanah dilokasi ini (subgrade) labil dan tidak mempunyai bahan lokal lain yang layak, maka teknik ini dinilai sebagai alternatif yang terbaik. Perlakuan tanah dengan teknik ini berbeda untuk tiap jenis tanah, dan mempunyai zona efisiensi yang berbeda pula.

Bahan tambah semen digunakan untuk stabilisasi tanah jenis pasir kasar dan pasir halus, dan untuk bahan kapur digunakan pada jenis tanah lanau halus, lempung kasar, dan lempung halus.  


Pembangunan Jalan di Daerah Rawa


 Pada proses pembangunan jalan desa teknik untuk membuat jalan didaerah rawa dianjurkan dengan menggunakan teknologi penggantian sebagian subbase (lapisan pondasi jalan diatas subgrade), kemudian dipasang matras galar kayu, cerucuk kayu, cerucuk dari papan atas, atau yang lain dengan memperhatikan ketinggian air minimum agar kayu selalu dalam keadaan terendam. Timbunan biasa tidak termasuk tanah lempung dengan plastisitas tinggi, tidak termasuk bahan organik, dan mempunyai CBR diatas 6%. Timbunan terpilih mempunyai CBR diatas 10% dan PI diatas 6%. Teknogi lain yang dianjurkan yaitu Tiang Turap Kayu atau Stabilisasi dengan Cerucuk.   

 

 

       
       
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
   

MENGHITUNG HARGA SATUAN PEKERJAAN MEMAKAI INDEKS STANDARDISASI NASIONAL INDONESIA (SNI)

MENGHITUNG HARGA SATUAN PEKERJAAN
MEMAKAI INDEKS STANDARDISASI NASIONAL INDONESIA (SNI)


  1. I.       DESKRIPSI
  2. Maksud dan Tujuan
Panduan teknis ini dimaksudkan sebagai acuan Fasilitator dalam membuat Rencana Anggaran Biaya pekerjaan bangunan gedung dan perumahan.
Tujuan panduan teknis ini sebagai berikut :
  • Penyeragaman pemakaian analisa harga satuan pekerjaan.
  • Meningkatkan kualitas dan akuntabilitas Rencana Anggaran Biaya pekerjaan, khususnya pekerjaan-pekerjaan bangunan gedung.
  • Efisiensi waktu pembuatan Rencana Anggaran Biaya
  1. Ruang lingkup
Analisa harga satuan pekerjaan ini berdasarkan indeks bahan bangunan dan indeks tenaga kerja yang dibutuhkan untuk tiap satuan pekerjaan sesuai Standardisasi Nasional Indonesia.
Analisa ini digunakan untuk menghitung besarnya harga satuan pekerjaan untuk bangunan gedung dan perumahan.
Analisa harga satuan pekerjaan ini dibuat dalam bentuk file excel yang sudah terintegrasi antara input, proses dan output.
  1. Istilah dan definisi
3.1   Bangunan gedung dan perumahan
Bangunan yang berfungsi untuk menampung kegiatan kehidupan bermasyarakat
3.2  Harga satuan bahan
       Harga yang sesuai dengan satuan jenis bahan bangunan
3.3  Harga satuan pekerjaan
Harga yang dihitung berdasarkan analisis harga satuan bahan dan upah
3.4  Indeks
Faktor pengali atau koefisien sebagai dasar penghitungan biaya bahan dan upah kerja
3.5  Indeks bahan
Indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan jenis pekerjaan
3.6  Indeks tenaga kerja
Indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan setiap satuan jenis pekerjaan
3.7  Pelaksana pembangunan gedung dan perumahan
Pihak-pihak yang terkait dalam pembangunan gedung dan perumahan yaitu para perencana, konsultan, kontraktor maupun perseorangan dalam memperkirakan biaya bangunan.
3.8  Perhitungan harga satuan pekerjaan konstruksi
Suatu cara perhitungan harga satuan pekerjaan konstruksi, yang dijabarkan dalam perkalian indeks bahan bangunan dan upah kerja dengan harga bahan bangunan dan standar pengupahan pekerja, untuk menyelesaikan per-satuan pekerjaan konstruksi
3.9  Satuan pekerjaan
Satuan jenis kegiatan konstruksi bangunan yang dinyatakan dalam satuan panjang, luas, volume dan unit
4     Singkatan istilah

Singkatan

Kepanjangan

Istilah / arti

cm

centimeter

Satuan panjang

kg

kilogram

Satuan berat

m’

meter panjang

Satuan panjang


meter persegi

Satuan luas


meter kubik

Satuan volume

OH

Orang hari

Satuan tenaga kerja per hari

PC

Portland Cement

Semen Portland

PB

Pasir Beton

Agregat halus ukuran ≤ 5 mm

PU

Pasir Urug

Pasir yang digunakan untuk urugan

PP

Pasir Pasang

Agregat halus ukuran ≤ 5 mm

KR

Kerikil

Agregat kasar ukuran 5 mm - 40 mm

SM

Semen Merah

Semen hasil tumbukan bata merah

KP

Kapur Padam

Kapur tohor yang dipadamkan

HB

Hollow Block

Bata berlubang di bagian tengahnya dari bahan tras dan kapur

CB

Concrete Block

Bata berlubang di bagian tengahnya dari bahan semen dan pasir

  1. II.      KONFIGURASI FILE
Analisa harga satuan pekerjaan ini disajikan dalam bentuk file Excel yang sudah terintegrasi antara uraian pekerjaan, analisa, harga material, harga upah.
Isi file terdiri dari beberapa sheet sebagai berikut :
  1. Daftar isi
  2. Daftar harga material dan upah
  3. Daftar analisa
  4. Rencana Anggaran Biaya ( format tampilan Jasa Konstruksi)
  5. Rencana Anggaran Biaya PNPM-MPd
  6. III.    CARA MENGOPERASIKAN FILE
Sebaiknya copykan file ini dalam bentuk file master dan file yang akan diproses.
3.1   Sheet Daftar Isi :
Pada sheet ini terdapat item-item pekerjaan mulai dari pekerjaan tanah sampai pekerjaan pengecatan ditambah pekerjaan persiapan.
Sub item pekerjaan dapat dilihat dengan cara meng klik (+) pada kolom paling kiri (1), sebaliknya kalau mau menutup tinggal di klik tanda (-).
Dari sheet ini juga bisa melihat sheet analisa dengan mengklik analisa yang dikehendaki.
3.2   Sheet  daftar harga material dan upah
Sheet ini berupa tempat memasukan harga-harga material dan upah. Data diinput pada kolom yang berwarna merah, untuk jenis material dan upah yang tidak diperlukan masukan angka 0 (nol).
Diharapkan pada sheet ini tidak dilakukan perubahan apapan, karena akan mengacaukan link dengan sheet analisa dan sheet RAB.
Pada sheet ini terdapat kolom Rekapitulasi Volume yang merupakan rekap volume dari semua item kegiatan.
3.3   Sheet Analisa
Dalam sheet ini tersedia semua daftar analisa harga satuan pekerjaan.
Jangan melakukan perubahan apapun dalam sheet ini, karena akan merusak link dengan sheet lain.
3.4   Sheet RAB (Harga Satuan Pekerjaan)
Sheet ini berupa sheet input untuk volume pekerjaan, masukan data pada kolom yang berwarna merah. Untuk jenis pekerjaan yang tidak diperlukan, masukan angka 0 (nol).
Sheet ini merupakan hasil akhir Rencana Anggaran Biaya sesuai tampilan yang biasa digunakan dalam jasa konstruksi.
3.5   Sheet RAB PNPM-MPd.
Sheet ini berupa sheet input untuk :
  • Volume, harga dan kategori biaya alat
  • Volume bahan, alat dan upah swadaya masyarakat
  • Kategori biaya.
Masukan data pada kolom yang berwarna merah.
  1. IV.   CATATAN PENTING
4.1   Analisa Pekerjaan Beton (SNI 7394-2008)
Analisa (3.1 s/d 3.27) digunakan untuk gambar rencana yang sudah detail dan Analisa (3.28 s/d 3.36) untuk gambar rencana yang belum mempunyai gambar detail.
Bobot isi pasir = 1,400 kg/m³; bobot isi kerikil = 1,350 kg/m³; bukling factor pasir = 20 %.
Semen yang digunakan adalah Semen portland tipe I.
Pasir beton adalah agregat halus ukuran ≤ 5 mm
Kerikil adalah agregat kasar ukuran 5 mm - 40 mm

Sunday, February 1, 2015

TEORI BELAJAR MENURUT NATIVISME, EMPIRISME DAN KONVERGENS

                        TEORI BELAJAR MENURUT NATIVISME, EMPIRISME
                                                      DAN KONVERGENSI


A.    Pengertian dan Faktor Perkembangan Manusia Menurut Teori Nativisme, Empirisme, dan Konvergensi
1.      Teori Nativisme
Nativisme merupakan kata dasar dari bahasa Latin, “natus” yang artinya lahir atau “nativus” yang mempunyai arti kelahiran (pembawaan). Nativisme merupakan sebuah doktrin yang berpengaruh besar terhadap teori pemikiran psikologis. Teori nativisme ini dipelopori oleh  Arthur Schopenhauer (1788-1860), seorang filosof Jerman.
 ini  mengemukakan bahwa perkembangan manusia itu  telah ditentukan  oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir (faktor pembawaan) baik karena berasal dari keturunan orang tuanya, nenek moyangnya maupun karena memang ditakdirkan demikian.
Pembawaan itulah yang menentukan hasil perkembangannya. Manakala pembawaannya itu baik, baik pula anak itu kelak. Begitu pula sebaliknya, andaikata anak itu berpembawaan buruk, buruk pula pada masa pendewasaannya.
Potensi-potensi yang dimiliki seseorang adalah potensi hereditas (bawaan) bukan potensi pendidikan. Pendidikan dan sama sekali tidak berpengaruh terhadap perkembangan  manusia. Teori ini juga termasuk dalam filsafat idealisme yang mengemukakan bahwa perkembangan seorang hanya ditentukan oleh keturunan yaitu faktor alam yang bersifat kodrati.
Menurut nativisme, pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan. Pendidikan dan lingkungan tidak berpengaruh sama sekali dan tidak berkuasa dalam perkembangan seorang anak. Dalam ilmu pendidikan teori nativisme ini dikenal sebagai pandangan pesemisme paedagogis. Teori ini disebut pula dengan Biologisme, karena mementingkan kehidupan individu saja, tanpa memperhatikan pengaruh-pengaruh dari luar. Perkembangan individu sangat dipengaruhi oleh:
a.      Faktor genetik (keturunan)
b.      Faktor Kemampuan (bakat)
c.      Faktor Pertumbuhan
2.      Teori Empirisme
Nama asli teori ini adalah “The school of British Empiricism” (teori empirisme Inggris). Pelopor teori ini adalah John Locke (1632-1704). teori ini mengemukakan bahwa manusia dilahirkan seperti kertas kosong (putih) yang belum ditulis (teori tabularasa). Jadi sejak dilahirkan anak itu tidak mempunyai bakat dan pembawaan apa-apa dan anak dibentuk sekehendak pendidiknya. Disini kekuatan apa pada pendidik, pendidikan dan lingkungannya yang berkuasa atas pembentukan anak.
Teori empirisme ini merupakan kebalikan dari teori nativisme karena menganggap bahwa potensi atau pembawaan yang dimiliki seseorang itu sama sekali tidak ada pengaruhnya dalam upaya pendidikan. Semuanya ditentukan oleh faktor lingkungan yaitu pendidikan. Teori ini disebut juga dengan Sosiologisme, karena sepenuhnya mementingkan atau menekankan pengaruh dari luar. Dalam ilmu pendidikan teori ini dikenal sebagai pandangan optimisme paedagogis.
3.      Teori  Konvergensi
Teori ini pada intinya merupakan perpaduan antara pandangan nativisme dan empirisme, yang keduanya dipandang sangat berat sebelah. Tokoh utama teori konvergensi adalah Louis William Stern (1871-1938), seorang filosof sekaligus sebagai psikolog Jerman.
Teori ini menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia. Faktor pembawaan tidak berarti apa-apa tanpa faktor pengalaman (lingkungan). Demikian pula sebaliknya, faktor pengalaman tanpa faktor pembawaan tidak akan mampu mengembangkan manusia yang sesuai dengan harapan.
Perkembangan yang sehat akan berkembang jika kombinsai dari fasilitas yang diberikan oleh lingkungan dan potensialitas kodrati seseorang bisa mendorong berfungsinya segenap kemampuannya. Dan kondisi sosial menjadi sangat tidak sehat apabila segala pengaruh lingkungan merusak, bahkan melumpuhkan potensi psiko-fisiknya.
Dengan demikian, keadaan ini dapat dinyatakan bahwa faktor pembawaan maupun pengaruh lingkungan yang berdiri sendiri tidak dapat menentukan secara mutlak dan bukan satu-satunya faktor yang menentukan pribadi atau struktur kejiwaan seseorang.
B.     Tujuan Teori Nativisme, Empirisme dan konvergensi dalam proses pembelajaran
Tujuan teori Nativisme, yaitu:
1.      Mampu memunculkan bakat yang dimiliki
2.      Mendorong seseorang mewujudkan diri yang berkompetensi
3.      Mendorong seseorang dalam menetukan pilihan
4.      Mendorong seseorang untuk mengembangkan potensi dari dalam dirinya
5.      Mendorong manusia mengenali bakat minat yang dimiliki
Tujuan teori Empirisme, yaitu:
1.      Sebagai faktor penentu bagi perkembangan seseorang yang bersumber dari berbagai sistem pendidikan.
2.      Mendorong seseorang dalam penguasaan terhadap bidang pengetahuan,
3.      Agar pendidikan seseorang menjadi relevan dan paling efektif yang  berorientasi pada pemberdayaan pendidikan dan pengalaman anak-didik itu sendiri.
Sedangkan tujuan teori belajar konvergensi adalah gabungan antara tujuan teori nativisme dan tujuan dari teori empirisme.
C.    Aplikasi dalam kehidupan
Berdasarkan teori nativisme, untuk mendukung teori tersebut di era sekarang banyak dibuka pelatiahan dan kursus untuk pengembangan bakat sehingga bakat yang dibawa sejak lahir itu dilatih dan dikembangkan agar setiap individu manusia mampu mengolah potensi diri. Sehingga potensi yang ada dalam diri manusia tidak sia-sia kerena tidak dikembangkan, dilatih dan dimunculkan.
Sedangkan yang terjadi dari realisasi paradigma empirisme, salah satunya adalah munculnya reduksi terus-terusan atau bahkan penghilangan dimensi dan peranan internal dalam proses pendidikan. Berpijak dari pandangan bahwa faktor ekstern manusia, merupakan faktor penentu, maka upaya yang dilaksanakan akan terus-terusan berorientasi pada pemberdayaan aspek luar diri manusia itu sendiri. Reduksi dan bahkan penghilangan dimensi dan peranan internal manusia, justru akan mendorong dan mengarahkan manusia yang menjadi anak-didik ke arah “sekularisasi” kehidupan dari aspek-aspek rohani, terutama naluri keagamaan.
Dari bermacam-macam istilah teori perkembangan seperti tersebut di atas, teori konvergensi  merupakan teori yang dapat diterima oleh para ahli pada umumnya. Sehingga teori ini merupakan salah satu hukum perkembangan individu di samping adanya hukum-hukum perkembangan yang lain.
Jadi, baik faktor pembawaan (gen) dan lingkungan itu diperlukan bagi seseorang meski hanya sekedar ada di dunia. Faktor bawaan dan lingkungan bekerja sama untuk menghasilkan kecerdasan temperamen, tinggi badan, berat badan, kecakapan membaca, dan sebagainya. Tanpa gen, tidak akan ada perkembangan, tanpa lingkungan tidak ada pula perkembangan karena pengaruh lingkungan tergantung pada karakteristik genetik bawaan, jadi dapat kita katakan bahwa ke-2 faktor di atas saling berinteraksi.