A. |
STANDAR TEKNIS PERKERASAN JALAN DESA |
Apa itu Jalan desa |
Adalah jalan yang dapat dikategorikan sebagai jalan dengan fungsi lokal di daerah pedesaan. Arti fungsi lokal daerah pedesaan yaitu :
|
Manfaat dibangun Jalan Desa |
|
Kriteria Jalan Desa |
|
Azas Pemilihan Teknologi |
|
|
STANDAR TEKNIS JALAN |
||||||||
Pertimbangan Drainase |
Drainase (siring) diperlukan karena air mempunyai pengaruh yang buruk untuk jalan, antara lain yaitu :
Pertimbangan yang paling sederhana dari masalah drainase adalah :
|
||||||||
Geometri Jalan |
Jalan direncanakan untuk kecepatan 15 s.d. 20 km/jam, pandangan bebas harus memperhatikan keselamatan pemakai jalan yaitu :
|
||||||||
Tempat Persimpangan |
Jalan direncanakan untuk kecepatan 15 s.d. 20 km/jam, pandangan bebas harus memperhatikan keselamatan pemakai jalan yaitu :
|
||||||||
Tanjakan Jalan |
|
||||||||
Tikungan pada Tanjakan Curam |
Pada daerah perbukitan sering dijumpai pada jalan yang menanjak dengan kemiringan > 10%. Bila terdapat tikungan tajam didaerah tersebut jalan harus direncanakan sebagai berikut :
|
||||||||
Bentuk Badan Jalan |
Penentuan bentuk badan jalan disarankan sebagai berikut.
|
||||||||
Bentuk Badan Jalan di Daerah Curam |
Badan jalan di daerah curam harus dibuat miring ke bukit dan saluran tepi jalan. Ukuran saluran minimum 50 cm dalam × 30 cm lebar, dengan bentuk trapesium. Kemiringan tebing maksimum 2 : 1, dengan galian /keprasan maksimal disarankan 4,00 meter. Timbunan maksimal 1,50 m. |
||||||||
Permukaan Jalan |
Penentuan tebal lapisan batu belah disesuaikan dengan kebutuhan (jenis dan frekuensi lalu lintas) dan ketersediaan batu. Untuk tebal lapisan 15 cm digunakan batu belah/ pecah dengan ukuran 10/15, dan untuk ukuran batu 15/20 biasanya digunakan untuk lapisan dengan tebal 20 cm. Lapisan batu belah dapat diganti dengan lapisan sirtu (pasir & batu tebal 20 cm), terutama untuk daerah kesulitan batu dan mempunyai tanah dasar yang stabil. Batu belah/pecah harus bersifat keras dan minimal mempunyai tiga bidang pecah. Petunjuk pelaksanaan untuk perkerasan jalan antara lain :
|
||||||||
Bahu Jalan |
Fungsi Bahu Jalan
Persyaratan teknis bahu jalan
|
||||||||
Pemadatan Tanah |
Tanah pada bagian galian tidak perlu dipadatkan lagi kecuali pernah mengalami gangguan yang mengakibatkan tanah menjadi kurang padat. Sebelum kegiatan pemasangan perkerasan jalan, semua daerah timbunan harus dipadatkan dengan mesin gilas, steamper, atau trimbisan. Pemadatan ini membantu menjaga stabilitas dan daya dukung / tahan badan jalan. Proses pemadatan dilakukan pada kadar air tanah optimum yaitu tanah pada keadaan sedikit basah, tetapi kalau digenggam tidak ada air mengalir ke luar. Pelaksanaan pemadatan tanah dilakukan lapis demi lapis dengan setiap lapis mempunyai tebal maksimum 20 cm. Untuk daerah tempat tanah dasarnya jelek, maka badan jalan harus diadakan perkuatan, misalnya cerucuk atau stabilisasi. |
||||||||
Perlindungan Tebing |
Cara yang digunakan untuk perlindungan tebing antara lain :
|
||||||||
Saluran Pinggir Jalan |
Saluran yang berdekatan dengan bahu jalan diperlukan disebelah kanan dan kiri jalan, kecuali :
Untuk keadaan biasa dimensi saluran harus berukuran minimal 50 cm (dalam) dan 30 cm (lebar dasar), dengan lebar atas 50 cm (bentuk trapesium). Syarat saluran pinggir jalan :
Pertimbangan untuk pemilihan tipe perlindungan saluran pinggir adalah :
|
||||||||
Pembuangan dari Saluran dan Gorong-gorong |
Fungsi dari saluran ini adalah untuk mencegah kerusakan akibat pengaliran air yang tak terkendali. Syarat teknis untuk saluran ini antara lain :
|
||||||||
Drainase Air Tanah |
Perlakuan ini bertujuan untuk mencegah air tanah naik ke permukaan jalan sehingga jalan tetap dalam keadaan stabil dan tidak kehilangan agregat halusnya. Contoh 5 rembesan dari air tanah yang memerlukan perencanaan darinase air tanah yaitu :
Contoh Rembesan dari Air Tanah Cara penanggulangannya dipilih berdasar jenis masalah yang dihadapi, antara lain dengan cara :
Cara pencegahan : Tebing dilindungi dan air dibuang melalui saluran pinggir jalan
Cara pencegahan :
Cara penanggulangan : Di buat drainase seperti drainase melintang (hal yang ketiga diatas)
Cara penanggulangan :
Khusus masalah ini dilakukan untuk pogram peningkatan jalan dan mengalami masalah drainase. |
||||||||
Perlakuan Vegetatif |
Cara ini sangat baik bila dikaitkan dengan fungsi konservasi seperti untuk mengurangi aliran permukaan dan meningkatkan infiltrasi. Nilai tambah lain dari perlakuan vegetatif yaitu :
Perlakuan vegetatif pada jalan dari fungsi konservasi mempunyai dua sasaran utama yaitu mencegah erosi dan longsor. Contoh pengendalian erosi dan longsor yang terjadi pada jalan dengan cara perlakuan vegetatif penanaman rumput / leguminosa, karena dapat membentuk gebalan yang padat, memberi kesempatan air hujan untuk infiltrasi ke dalam tanah, mengurangi pukulan air hujan secara langsung, mengurangi erosi percikan karena ada sistem perlindungan oleh tajuk dan mulsa daun, menghambat pergerakan sedimen. Langkah-langkah untuk pemilihan jenis tanaman untuk perlakuan vegetatif yang bersifat konservasi antara lain : (1) Mengumpulkan data yang bersifat informasi tentang keadaan lokasi, termasuk ketinggian tempat, jumlah curah hujan dan lama musim kemarau, jenis dan tekstur tanah, dan keasaman tanah (pH). (2) Mengamati jenis tumbuhan yang sudah ada di sekitar lokasi perlindungan. (3) Mengetahui fungsi tanaman yang diperlukan untuk mengatasi masalah konservasi yang ada. (4) Penentuan jenis tanaman yang dapat tumbuh dengan baik di lokasi, berdasarkan syarat tumbuh. (5) Mencari informasi tentang persediaan bahan tanaman untuk ditanam. (6) Memutuskan jenis tanaman yang layak untuk lokasi tersebut, ditinjau dari aspek teknis, ekonomi, dan sosial. Aspek yang dipertimbangkan dalam penentuan jenis tanaman : (1) Sesuai dengan jenis tanah, iklim, tinggi tempat dan sifat perakaran (2) Bersifat agresif (dalam waktu pendek mampu menutup tanah seluas mungkin) (3) Berumur panjang (4) Disukai ternak atau tidak (5) Aman bagi jalan dan pemakai jalan (6) Berfungsi juga dalam estetika (7) Bernilai ekonomis dan bermanfaat (sebagai pakan ternak atau kayu bakar, dll) |
||||||||
Stabilisasi |
Proses ini dilakukan dengan menambah sedikit bahan tertentu pada tanah asli. Bila tanah dilokasi ini (subgrade) labil dan tidak mempunyai bahan lokal lain yang layak, maka teknik ini dinilai sebagai alternatif yang terbaik. Perlakuan tanah dengan teknik ini berbeda untuk tiap jenis tanah, dan mempunyai zona efisiensi yang berbeda pula. Bahan tambah semen digunakan untuk stabilisasi tanah jenis pasir kasar dan pasir halus, dan untuk bahan kapur digunakan pada jenis tanah lanau halus, lempung kasar, dan lempung halus. |
||||||||
Pembangunan Jalan di Daerah Rawa |
Pada proses pembangunan jalan desa teknik untuk membuat jalan didaerah rawa dianjurkan dengan menggunakan teknologi penggantian sebagian subbase (lapisan pondasi jalan diatas subgrade), kemudian dipasang matras galar kayu, cerucuk kayu, cerucuk dari papan atas, atau yang lain dengan memperhatikan ketinggian air minimum agar kayu selalu dalam keadaan terendam. Timbunan biasa tidak termasuk tanah lempung dengan plastisitas tinggi, tidak termasuk bahan organik, dan mempunyai CBR diatas 6%. Timbunan terpilih mempunyai CBR diatas 10% dan PI diatas 6%. Teknogi lain yang dianjurkan yaitu Tiang Turap Kayu atau Stabilisasi dengan Cerucuk.
|